Kasus Kakak Ipar Setubuhi Adiknya, Psikologi Sebut Pelaku Harus Mendapat Sanksi Berat karena Merusak Banyak Hubungan

  • Whatsapp
efb acf eecf
Ilustrasi kasus persetubuhan yang dilakukan oleh JP kepada adik iparnya saat sang istri berada di luar rumah/IST

VONIS.ID, SAMARINDA – Kasus persetubuhan yang dilakukan JP (29) terhadap adik iparnya yang masih berusia 15 tahun sangat disesalkan oleh Psikolog Kota Tepian bernama Ayunda Ramadhani. Kata Psikolog yang lama bekerja di Rumah Sakit Khusus Daerah (RSKD) Atma Husada Mahakam Samarinda ini, kalau kasus persetubuhan ini tentu akan berimbas luas dan pelaku harus mendapatkan hukuman yang berat.

Sebab, akibat aksi amoral yang dilakukan JP itu bisa merusak hubungan rumah tangganya bersama istri. Kemudian merusak hubungan korban dengan kakak kandungnya yang merupakan istri JP. Merusak hubungan anak dengan orangtua, lantaran dari pernikahannya JP dikaruniai seorang anak. Serta merusak hubungan istri JP dengan keluarganya.

Baca Juga

“Tentu hukuman bagi pelaku harus diperberat karena dengan perbuatannya dia telah mengancam banyaknya kerusakan hubungan,” tegas Ayunda melalui telpon selulernya, Sabtu (17/10/2020) sore tadi.

Disinggung mengenai alasan pelaku yang melakukan tindak persetubuhan itu karena spontanitas, Ayunda tak begitu setuju. Karena, jawab Ayunda pelaku yang telah membelokan laju sepeda motornya saat hendak mengantar si korban membeli casing handphone dan melontarkan ancaman ingin mencerai istrinya jika korban membuka suara, adalah sebuah bentuk unsur kesengajaan dan memiliki niat serta motif yang harus dipertanggungjawabkan.

“Kalau dibilang spontan itu sangat jarang terjadi. Dan bahkan kalau spontan itu misalnya di lokasi tak terhindarkan dan biasanya pelaku memiliki kelainan orientasi seksual. Kalau pada orang ini kan dia menikah punya anak dia berarti manusia normal,” sebutnya.

Ayunda juga menyampaikan beberapa faktor yang bisa melatarbelakangi peristiwa tak senonoh itu. Mulai dari rendahnya pendidikan pelaku, kurangnya pengendalian diri dan minimnya pendidikan agama.

Sedangkan faktor lainnya yang bisa berpengaruh ialah, pengaruh pornografi, konsumsi obat-obatan terlarang semisal narkotika jenis sabu yang bisa mengaburkan rasionalitas seseorang.

“Narkoba bisa memicu seperti sabu yang bersifat stimulan. Bikin orang terjaga, bersemangat, adrenalin meningkat dan biasa membuat orang melakukan hal-hal yang beresiko,” terangnya.

Hal beresiko yang dimaksud ialah, kejahatan seksualitas dan tindak kriminalitas lainnya. Hanya saja, semua penuturan Ayunda ini masih bersifat dugaan. Sebab untuk mencari motif pasti, yakni dari tim penyidik kepolisian yang bisa melakukan pendalaman kepada pelaku itu sendiri.

“Yang jelas pelaku ini memiliki kontrol kendali yang lemah, memiliki moral kompas yang tidak sesuai norma masyarakat,” timpalnya.

Selain persoalan internal, faktor eksternal seperti konflik pelaku dengan istrinya bisa menjadi jawaban lain dari tindak amoral yang dilakukannya kepada korban. Dorongan kebutuhan biologis yang tidak didapat pelaku dari istrinya juga bisa melatarbelakangi persetubuhan tersebut.

“Kalau khilaf itu bahasa agama. Tapi itu juga mempertegas kurungnya kontrol diri. Meskipun pelaku mengaku tidak sengaja tapi tetap di bawah kesadaran,” pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, JP yang bekerja sebagai seorang buruh bangunan melampiaskan nafsu birahinya kepada korban pada Kamis 3 Septeember lalu. Saat itu, kediaman pelaku dalam keadaan kosong karena istri dan anaknya sedang menghadiri sebuah acara di Kecamatan Muara Badak, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).

Karena kediaman JP tak begitu jauh dengan kediaman korban, tepatnya di kawasan Sempaja, Kecamatan Samarinda Utara, ia kemudian mampir ke rumah mertuanya. Saat itulah ia mendengar kalau korban ingin pergi kelaur membeli sebuah casing handphone dan JP pun menawarkan diri ingin mengantarkan adik iparnya.

Ketika dijalan, JP bukannya mengantar korban membeli, namun laju sepeda motornya saat itu justru berbelok ke kediman JP dan saat itulah ia melakukan tindak amoral tersebut. (*)

Related posts