Tak ada Janji Pertemuan Dua Kelompok, Burhanuddin Tewas Digorok Usai Suara Tembakan Dua Kali

  • Whatsapp
fcbae af fa aed
Usai ketegangan dua kelompok di Kelurahan Handil Bakti, Kecamatan Palaran, satu korban tewas dan polisi segera melakukan penyelidikan dan mengamankan pelaku kurang dari 1x24 jam/VONIS.ID

VONIS.ID, SAMARINDA – Konflik lahan kelompok warga dengan kelompok tani (Poktan) Empang Jaya pada Sabtu (10/4/2021) kemarin di RT 1, Kelurahan Handil Bakti, Kecamatan Palaran yang menewaskan Burhanuddin dengan luka gorok di leher hingga nyaris putus rupanya merupakan bentuk penyergapan.

Hal ini diungkapkan Saidal seorang warga yang berada di lokasi saat kejadian berdarah tersebut. Kepada media ini, pria 53 tahun itu menjelaskan jika permasalahan awal bermula dari penyerobotan tanah yang dilakukan Poktan Empang Jaya sejak lima tahun silam.

Baca Juga

Permasalahan yang terus berlarut tanpa penyelesaian jelas ini akhirnya membuat warga berkumpul pada pagi kemarin. Tujuannya untuk memastikan patok lahan mereka yang kerap digeser oleh Poktan Empang Jaya.

“Kita semua kumpul sekira jam 8 atau jam 9 pagi. Terus sama-sama jalan kaki menuju lahan untuk membenahi patok di sana,” ucap Saidal memulai ceritanya, Minggu (11/4/2021) sore tadi.

Sekira satu jam menempuh perjalanan kaki, Saidal bersama puluhan warga lainnya tiba di lokasi. Di sana mereka memastikan patok lahan mereka berdasarkan segel maupun Surat Peryataan Penguasaan Tanah (SPPT).

“Kami tidak punya kelompok tani. Cuman yang jelas setiap warga itu menguasi sebidang lahan, sekitar satu sampai satu setengah hektare dengan surat izin yang legal,” lanjutnya.

Saat warga mulai disibukan membenahi patok lahan, lanjut Saidal, tiba-tiba ada seseorang dari Poktan Empang Jaya menghadang dan adu argumen pun terjadi.

Pria dari Poktan Empang Jaya itu melarang kelompok warga menggeser patok lahan. Sebab menurutnya penguasaan lahan itu sah dimiliki Poktan Empang Jaya.

Ketegangan mulai terjadi, tak lama berselang dari arah belakang pria itu, tepatnya dari Bukit Tunggal pria lain berdatangan berjalan kaki bergerak mendekat dilengkapi dengan senjata tajam setiap orangnya.

“Lama-lama rame. Kita intruksikan ke yang lain buat mundur. Jadi masyarakat akhirnya mundur. Setelah mundur, mereka teriak kenapa mundur pengecut. Saya lihat memang ada satu yang bawa penabur (senjata rakitan),” terangnya.

Senjata rakitan jenis penabur itu tanpa basi-basi langsung ditembakan. Kelompok warga langsung tunggang langgang melarikan diri.

“Saya langsung lari sekitar 100 meter, didekat saya ada Burhanuddin dan satu warga lainnya yang juga melarikan diri,” kata Saidal.

Ditengah pelariannya, samar-samar dari belakang Saidal mendengar jika seseorang dari Poktan Empang Jaya berkata kepada si pemegang senjata penabur untuk menembak warga yang menggunakan pakaian dan topi berwarna hitam.

Yang mana ciri ini begitu mirip dengan pakaian yang dikenakan Burhanuddin saat kejadian.

“Selang beberapa detik dari perkataan itu, kemudian ada tembakan kedua. Saat itu Burhanuddin sama warga yang satunya langsung terjatuh,” sambungnya.

Tak berani mengambil resiko, Saidal pun terus berlari dan dirinya bersembunyi di balik semak belukar dekat saluran irigasi yang hanya berjarak sekira 30 meter.

“Waktu itu warga yang terjatuh sempat bangun dan lari lagi. Sedangkan almarhum (Burhanuddin) sudah terkapar, engga gerak lagi. Saya juga engga lihat persis setelahnya. Kalau dari lukanya almarhum sih, indikasinya ya digorok setelah terjatuh itu,” bebernya.

Tak hanya itu, Saidal pula bercerita awal keresahan warga mengenai penyerobotan lahan sejak lima tahun silam. Dengan tegas Saidal berucap kalau dirinya bersama warga lain sah memiliki izin legal atas lahan tersebut.

Pada 2004 silam, Saidal pribadi membeli lahan itu melalui seorang pria bernama Alimuddin. Lahan yang dibeli Saidal pun sejatinya milik Poktan Empang Jaya namun masih dalam pimpinan sebelumnya, yakni Almarhum Hanafi.

Sepeninggalan Hanafi, Poktan Empang Jaya berganti kepemimpinan. Yang mana ketua, wakil dan sekretarisnya merupakan tiga bersaudara anak dari Almarhum Hanafi.

“Tapi pergantian pimpinan ini tidak pernah diketahui siapapun, bahkan kelurahan juga tidak mengetahuinya,” ulasnya.

Tanpa sepengetahuan pihak manapun, Poktan Empang Jaya dengan kepemimpinan baru ini lantas tak mengakui jual beli lahan dari mendiang Hanafi kepada Saidal dan warga lainnya.

Warga pun lantas tak diperolehkan melakukan aktivitas tanam tumbuh. Saat ada warga yang memaksa, maka pihak Poktan Empang Jaya tak segan melakukan pengerusakan. Hal ini terus berangsur hingga lima tahun lamanya.

“Kami sudah beberapa kali melaporkan ke polisi tapi tidak ada tanggapan. Kami kembali ke lurah sebagai ujung tombak. Di kelurahan juga tidak bisa menyelesaikan karena hanya berupa saran,” eluhnya.

Bak pepatah nasi sudah menjadi bubur, Saidal pun berharap agar aparat penegak hukum mampu memberikan keadilan atas kejadian yang menewaskan Burhanuddin dan permasalahan lahan ini mampu secepatnya di tengah untuk mendapatkan jalan keluar. (tim redaksi)

Related posts