Hujan Lebat di Samarinda, 21 Rumah Terdampak Longsor, Warga Sebut Galian Batu Bara Jadi Penyebabnya

  • Whatsapp
dbab b e bc ccbaf
Suasana longsor yang menerjang 21 rumah kediaman warga di Kecamatan Samarinda Utara yang diduga sebab dua galian batu bara/VONIS.ID

VONIS.ID, SAMARINDA – Derasnya hujan yang mengguyur sebagain besar kawasan Kota Tepian rupanya menyisakan duka bagi sebagian kecil warganya.

Selain memakan korban jiwa pada seorang remaja SMP yang tewas tersengat aliran listrik di Jalan Juanda, Kecamatan Samarinda Ulu, Kamis (7/1/2021) malam tadi.

Baca Juga

Rintik hujan juga rupanya membuat puluhan jiwa di Kecamatan Samarinda Utara kehilangan tempat bernaungnya.

Sebab musibah tanah longsor menerjang dan berdampak pada 21 bangunan warga.

Seperti yang terjadi di kawasan pemukiman di bilangan Batu Cermin, Gang H Fathan dan Gang Anugrah, RT 06, Kelurahan Sempaja Utara, Kecamatan Samarinda Utara.

Air bah setinggi perut orang dewasa menerjang. Hal itu dikarenakan selain berada di daerah aliran sungai, kawasan tersebut berada di dataran rendah dan dikelilingi bukit.

Tak sampai disitu, setelah diterpa air bah, longsor melanda. Setidaknya ada lima longsor yang terjadi.

“Air juga naik waktu hujan deras itu. Banjir juga,” kata M Habibi Hasan (22), warga RT 06, Jumat (8/1/2021) saat dijumpai sore tadi.

Lanjut Habibi, aliran air yang deras juga membawa material tanah longsor. Lumpur masuk ke rumah-rumah warga. Setidaknya 21 rumah terdampak.

“Ini paling parah dari sebelumnya,” kata Ketua RT 6 Kelurahan Sempaja Utara, Anton turut menimpal.

Pria 48 tahun itu menduga dua galian yang berada sekitar tiga kilometer dari pemukiman ikut menyumbang tingginya debit air. Ditambah, kawasan perbukitan yang sudah mulai gundul.

“Itu pemerintah belum lihat juga, seharusnya ditinjau. Sepertinya itu bekas galian tambang,” terangnya.

Selain meminta pemerintah meninjau dua galian tambang, Anton juga meminta agar tepi anak sungai di kawasan tersebut diturap. Hal itu agar air tak tumpah ruah ke pemukiman.

“Kami minta ke pemerintah agar anak sungai ini diturap dan ditertibkan bangunan yang ada di atasnya,” harapnya.

Ditemui di lokasi longsor, Camat Samarinda Utara Syamsu Alam menuturkan jika pembersihan longsor dan endapan lumpur langsung dilakukan setelah musibah terjadi. Sementara hanya secara swadaya masyarakat serta dibantu para relawan.

Menyikapi bangunan yang berdiri di tepi hingga di atas sungai, pihaknya akan mengkaji terlebih dahulu. Selain itu akan mengimbau para pemilik bangunan.

“Jangan buat bangunan di sungai. Nanti pemerintah bisa mengkaji juga,” imbuhnya.

Disinggung soal dua galian yang berada di atas bukit tak jauh dari pemukiman, Syamsu membenarkan adanya lubang galian emas hitam tersebut.

Namun dirinya belum bisa memastikan ada tidaknya dampak yang ditimbulkan dari dua kolam raksasa itu sebagai sebab musibah ini.

Terkait peninjauan, lanjut Syamsu, peninjauan sebenarnya telah dilakukan jauh hari sebelumnya.

Hanya tak ada aktivitas saat tiba di lokasi yang dituju.

“Kita camat ini kan tergantung laporan saja. Kita ke sana kadang engga tau juga siapa yang gali,” pungkasnya. (tim redaksi)

Related posts